Erwin Rommel merupakan salah satu komandan militer paling
terkenal dalam sejarah Perang Dunia II. Disebut sebagai “Rubah Gurun”, ia dikenal karena strategi cerdas dan kepemimpinannya di medan perang. Sebagai jenderal Jerman, Rommel menampilkan kecerdikan strategisnya terutama di Kampanye Afrika Utara. Namun, narasinya tidak hanya terbatas pada pencapaian militer, tetapi juga berkaitan dengan prinsip dan moralitasnya sebagai pemimpin.
Kehidupan Awal dan Karier Militer
Lahir dan Pendidikan
Erwin Rommel lahir pada 15 November 1891 di Heidenheim, Jerman. Sejak usia dini, ia memiliki minat pada teknik dan bercita-cita menjadi insinyur, namun akhirnya memilih jalur di militer. Pada tahun 1910, ia bergabung dengan angkatan bersenjata Kekaisaran Jerman dan menunjukkan bakat yang luar biasa dalam taktik serta kepemimpinan.
Perang Dunia I
Rommel berperang dalam Perang Dunia I dan dengan cepat mendapatkan reputasi sebagai komandan yang cerdik dan berani. Keberaniannya di medan perang membuatnya dianugerahi penghargaan Pour le Mérite, salah satu penghargaan tertinggi di Jerman.
Perang Dunia II dan Julukan “Rubah Gurun”
Invasi ke Prancis (1940)
Pada awal Perang Dunia II, Rommel ditugaskan memimpin Divisi Panzer ke-7 dalam invasi ke Prancis. Ia menerapkan taktik “Blitzkrieg” yang cepat dan efektif, sehingga pasukannya mampu menembus pertahanan musuh dengan kecepatan yang luar biasa.
Kampanye Afrika Utara
Pada tahun 1941, Rommel dikirim ke Afrika Utara untuk memimpin Korps Afrika. Di sini, ia memperoleh julukan “Rubah Gurun” karena kemampuan strategisnya dalam memanfaatkan medan gurun.
Ia berhasil memenangkan beberapa pertempuran penting melawan pasukan Sekutu, seperti di Tobruk dan Gazala.
Taktik yang fleksibel dan inovatif sering kali membuat lawan-lawannya kesulitan untuk menghadapinya.
Namun, pada tahun 1943, Rommel menghadapi kekurangan pasokan dan akhirnya harus mundur setelah kekalahan dalam Pertempuran El Alamein.
Rommel dan Perlawanan terhadap Hitler
Walaupun seorang perwira Jerman, Rommel tidak mendukung kebijakan kejam Adolf Hitler. Setelah kekalahan di Afrika, ia kembali ke Eropa dan diberikan tugas untuk mempertahankan pantai Prancis dari invasi Sekutu.
Pada tahun 1944, ia semakin merasa kecewa dengan kepemimpinan Hitler yang keras kepala. Rommel bahkan terlibat dalam konspirasi untuk menggulingkan Hitler, meskipun perannya tidak sepenuhnya jelas.
Ketika upaya pembunuhan terhadap Hitler pada 20 Juli 1944 gagal, Rommel dicurigai terlibat. Ia diberikan pilihan oleh rezim Nazi: bunuh diri atau keluarganya akan dihukum. Pada 14 Oktober 1944, Rommel akhirnya memilih untuk menelan racun demi menyelamatkan keluarganya.
Warisan dan Pengaruh
Jenderal yang Dihormati Lawan dan Kawan
Rommel adalah salah satu dari sedikit jenderal Jerman yang dihormati oleh musuh-musuhnya. Para pemimpin Sekutu, seperti Winston Churchill, mengakui kehebatan taktik dan moralitasnya. Ia dianggap sebagai pemimpin yang adil dan tidak melakukan kejahatan perang, berbeda dengan banyak perwira Nazi lainnya.
Pelajaran dari Kepemimpinan Rommel
Beberapa prinsip kepemimpinan Rommel yang masih relevan sampai sekarang adalah:
Fleksibilitas dalam Menghadapi Tantangan – Rommel selalu dapat menyesuaikan taktiknya dengan situasi di lapangan.
Keberanian dan Kepedulian terhadap Pasukan – Ia selalu berada di garis depan bersama pasukannya, yang menjadikannya sangat dihormati oleh anak buahnya.
Moralitas dalam Kepemimpinan – Meskipun menjadi bagian dari angkatan bersenjata Jerman, ia menolak kekejaman Nazi dan lebih memilih kehormatan dalam bertempur.